Kegunaan Macam-Macam Tombol di iPhone

Dear iPhone 7 User, Berhentilah Menggunakan Fitur Assistive Touch

Justin Bieber boleh mengendarai Ferrari, bakal tapi salah satu ponsel yang dia memanfaatkan adalah iPhone. Bukan, ini bukan artikel klise “Android vs. iPhone”. Saya hanya inginkan memperlihatkan perbedaan antara industri otomotif dan industri smartphone: di industri ponsel, product yang paling high-end sama sekali masih bisa dijangkau oleh banyak kalangan.

Oke, smartphone yang digunakan selebriti serupa layaknya yang kami pakai, memangnya kenapa? Well, tentunya ada sejumlah hal yang berbeda, didalam kasus ini yang inginkan aku sorot adalah langkah penggunaannya. Justin Bieber belum tentu mengetahui fitur bernama Assistive Touch, bakal tapi fitur ini hukumnya mesti untuk pengguna iPhone di Indonesia, di Tiongkok maupun di beberapa negara lainnya.

Apa itu Assistive Touch? tombol home iphone

Tampilan tombol virtual Assistive Touch beserta menunya di iPhone / Apple Support
Assistive Touch, bagi yang tidak tahu, adalah tombol virtual yang selamanya terlihat di layar dan bisa di-tap kapan saja untuk mengaktifkan begitu banyak ragam fungsi, terasa dari kembali ke home screen, mengunci layar hingga mengaktifkan Siri. Posisinya bisa dipindah-pindah sesuka hati; bisa di kiri atas, kiri bawah, kanan atas, kanan bawah, atau tambah agak ke tengah.

Untuk mengaktifkannya, pengguna mesti lebih pernah masuk ke menu pengaturan Accessibility. Sesuai namanya, fitur ini memang dirancang untuk pengguna yang mempunyai kesulitan; susah menghimpit tombol fisik, atau mungkin susah mengusap layar. Yang mengherankan, banyak sekali pengguna fitur ini yang ternyata serupa sekali tidak mempunyai kesulitan.

Assistive Touch untuk menahan tombol Home rusak
9 dari 10 pengguna iPhone yang aku kenal memakai fitur ini. Hampir seluruhnya mengimbuhkan alasan yang sama, yaitu sehingga tombol Home milik iPhone kesayangannya tidak rusak, sehingga pada akhirnya masih bisa dijual kembali dengan harga yang lumayan tinggi ketika telah saatnya bagi mereka untuk berpindah smartphone.

Alasan mereka ini lumayan valid. Tombol Home iPhone memang mempunyai sejarah yang jelek dari masa ke masa. Utamanya sejak iPhone 4 dan iOS 4 mampir memperkenalkan fitur app switcher (yang diaktifkan dengan menghimpit tombol Home dua kali), tombol terutama itu menjadi cepat sekali rusak.

Mereka yang tombol Home milik iPhone-nya telah terlanjur rusak memilih untuk memanfaatkan Assistive Touch ketimbang membayar cost reparasi. Cerita ini lalu menyebar dari mulut ke mulut, hingga akhirnya Assistive Touch dipercaya sebagai metode yang efektif untuk menahan tombol Home rusak – bahkan direkomendasi sendiri oleh staf toko yang menjual iPhone.

iPhone 7 sebabkan Assistive Touch menjadi tidak kembali relevan

Tombol Home milik iPhone 7 dan 7 Plus bukan kembali merupakan tombol fisik / Pixabay
iPhone 5S dan suksesor-suksesornya mengemas sensor pemindai sidik jari yang tertanam pada tombol Home, dan bersamanya mampir peningkatan durabilitas. Kendati demikian, hal ini belum lumayan memastikan para pengguna iPhone untuk berhenti memakai Assistive Touch dan memanfaatkan iPhone layaknya yang Apple kehendaki didalam suasana normalnya.

Hingga akhirnya datanglah iPhone 7 dan 7 Plus tahun lalu. Tombol Home yang tersemat di ke-2 iPhone terakhir ini sepintas terlihat serupa layaknya sebelum-sebelumnya, tapi sebenarnya sangatlah berbeda. Di iPhone 7 dan 7 Plus, tombol Home ini secara teknis tidak bisa kembali disebut sebagai “tombol”. Pasalnya, serupa sekali tidak ada komponen yang bergerak ketika pengguna menekannya.

Kalau Anda tidak percaya, cobalah matikan iPhone 7 atau 7 Plus Anda, lalu tekan tombol Home-nya. Saya jamin Anda tidak bakal merasakan apa-apa. Tombol Home pada ke-2 iPhone baru ini lebih pantas dikategorikan sebagai trackpad.

Taptic Engine di didalam iPhone 7 dan 7 Plus bertanggung jawab atas sensasi klik yang terlihat ketika pengguna menghimpit tombol Home / Apple
Sensasi klik yang terlihat ketika Anda menghimpit tombol Home milik iPhone 7 dan 7 Plus memang merupakan pengaruh getaran dari komponen bernama Taptic Engine, komponen yang serupa yang bertanggung jawab atas pengaruh getaran ketika Anda menghimpit layar (3D Touch) maupun layar dan trackpad Force Touch pada Apple Watch dan MacBook.

Perubahan yang terkesan sepele tapi pengaruhnya vital ini sebabkan Assistive Touch menjadi tidak kembali relevan di iPhone 7 dan 7 Plus, setidaknya menurut pandangan saya. Kalau suatu tombol tidak kembali bisa bergerak, bukankah peluangnya untuk rusak menjadi terlampau kecil atau bahkan hampir tidak ada?

Semisal rusak, letak kesalahannya pun bukan di tombol Home, melainkan di Taptic Engine atau iOS – dan termasuk bukan akibat terlampau kerap ditekan. Kalau telah tiba di titik ini, sekali kembali masih ada Assistive Touch yang bisa menjadi solusi, baik untuk sementara ataupun seterusnya.

Alasan untuk tidak memakai Assistive Touch

Untuk menyentuh tombol “X” di sini, sang pengguna mesti lebih pernah memindah posisi tombol Assistive Touch / Pixabay
Mengingat Assistive Touch merupakan bagian dari fitur Accessibility, tahu sekali ini bukan langkah normal memanfaatkan iPhone layaknya yang Apple kehendaki. Pada kenyataannya, Assistive Touch sangatlah tidak praktis jikalau dibandingkan dengan tombol Home.

Untuk terlihat dari aplikasi misalnya, Anda perlu dua tap pada Assistive Touch: pertama untuk terhubung menunya, ke-2 untuk mengaktifkan faedah tombol Home. Dengan tombol Home, Anda hanya perlu satu klik saja. Kalau perlu alasan ekstra, sensasi kliknya jauh lebih memuaskan ketimbang menyentuh layar dua kali tanpa ada feedback serupa sekali.

Memang ada sementara di mana Assistive Touch terkesan lebih memudahkan ketimbang tombol Home, layaknya ketika hendak mengaktifkan Siri atau mengambil screenshot misalnya. Ketimbang mesti menghimpit dan menahan tombol Home, Anda bisa menyentuh layar dua kali untuk mengaktifkan ke-2 faedah tersebut. Namun aku masih mempunyai alasan lain untuk tidak memanfaatkan Assistive Touch.

Alasan itu adalah, keberadaan Assistive Touch sangatlah mengganggu. Tampilannya memang beralih menjadi agak transparan ketika tengah tidak digunakan, tapi selamanya saja memakan daerah di layar. Saat berada di sebuah aplikasi misalnya, Assistive Touch bisa menutupi tombol aplikasi di ujung layar, dan pengguna mesti lebih pernah memindahnya untuk bisa menghimpit tombol aplikasi tersebut.

Lebih lanjut, tren smartphone terkini adalah layar dengan bezel yang terlampau minimal, yang dipelopori oleh LG G6 dan Samsung Galaxy S8. Tujuannya sehingga layar bisa lebih besar dan konten yang ditampilkan bisa lebih banyak tanpa sebabkan dimensi ponsel menjadi makin lama bengkak. Kalau itu yang konsumen cari, lalu kenapa mereka berkenan mengorbankan beberapa kecil layar untuk sebuah tombol virtual yang dirancang untuk pengguna berkebutuhan khusus?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *